Batik Betawi: Budaya Yang Terkenal

Batik Betawi: Budaya Yang Terkenal

Katrinaforcongress –┬áKarena Batik dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, Batikia mungkin bukan hanya pakaian biasa. Bahkan batik sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia, terutama dalam hal berbusana. Seperti halnya batik di berbagai daerah di Indonesia, Jakarta yang merupakan pusat kebudayaan Betawi memiliki corak kain batik yang unik, sering disebut juga batik Betawi.

Pasalnya, aki Betawi ini memiliki warna dan corak yang berbeda dengan batik kebanyakan. Keran Betawi memiliki corak dan warna cerah yang rata-rata sesuai dengan nilai-nilai budaya yang terdapat di masyarakat. Ondel-ondel, Sungai Ciliwung dan Peta Ceila adalah beberapa ciri khas Batik Betawi. Misal, batik dengan motif Ciliwung diharapkan jika memakai Betawi dengan motif ini diharapkan pengguna memiliki pola makan yang lancar, seperti aliran sungai Ciliwung. Ada juga legenda pada motif Nusa Kelapa bahwa daerah yang dulu bernama Jakarta ini bernama Nusa Kelapa.

Tidak ada aturan khusus dalam menggunakan Batik Betawi. Ini hanya berlaku saat mengenakan motif tumpal agar terlihat cocok dikenakan di depan. Harga satu potong batik Betawi biasanya berkisar antara Rp. 600.000 hingga tak terhingga. Aki Betawi semakin langka di pasaran, namun jika beruntung, Anda akan menemukannya di pertunjukan.

Batik Betawi umumnya dibuat dengan ditulis dan dicap serta merupakan kombinasi keduanya. Batik cap dibuat dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Pertama, buat garis pada kain sebagai nilai referensi untuk mencap motif tepi.
  • Kedua, timbul motif tepi pada kain.
  • Ketiga, cap motif utama pada tempat yang diinginkan.
  • Keempat, siapkan pewarna dalam rendaman pewarna.
  • Kelima, mewarnai. Caranya yaitu dengan merendam batik satu kali dalam bak pewarna, kemudian kain ditus (kain yang dilemparkan di atas tali jemuran agar air yang menetes). Setelah tetesan air habis, kain dibenamkan kembali ke dalam rendaman pewarna dan kemudian dikembalikan ke keadaan semula, beberapa kali hingga warnanya mencukupi.
  • Setelah keenam, kain dilorod selama kurang lebih 10-15 menit, yaitu direbus dalam air mendidih untuk mengeluarkan wax (lilin batik).
  • Ketujuh, kain dibilas atau dicuci bersih, lalu dijemur.

Produksi batik tulis hampir sama dengan batik cap di konveksi seragam. Bedanya pada batik tulis motif dibuat dengan cara dicap, sedangkan pada batik tulis motif dibuat dengan tulisan menggunakan canting. Cara membuat batik sebagai berikut:

  1. Buat desain tema terlebih dahulu. Pola dibuat baik secara langsung di atas kertas atau dengan menjiplak gambar di atas kertas. Design yang dibuat secara langsung adalah pola untuk satu motif atau untuk beberapa motif, namun berbeda untuk tiap motif. Desain yang dibuat dengan tracking merupakan desain untuk banyak motif, tetapi semua motifnya sama.
  2. Kedua, nglowong, pembatas pada motif.
  3. Ketiga, isen-isen, yang mengisi kekosongan. Prosesnya 2 minggu sampai 1 bulan. Itu tergantung kompleksitas dan jumlah motif.
  4. Keempat, pemblokiran atau penutup yang menutupi kain dengan kain kecil.
  5. Kelima, proses pencelupan hingga pengeringan. Prosesnya sama dengan proses di batik cap.
  6. Saat menggunakan satu warna, zat yang telah mengalami proses nglowong dan isen langsung diwarnai. Untuk melakukan ini, letakkan kain di bak pewarna.
  7. Selanjutnya, goyangkan bak mandi secara perlahan agar cat meresap ke dalam kain secara merata. Setelah Anda merasakan cat menyerap, kain dimasukkan.
  8. Setelah dituang, kain dicuci, dibilas, lalu dijemur. Jika menggunakan lebih dari 1 warna (misalnya 2 warna), maka setelah kain melalui proses pewarnaan yang pertama, kain tidak akan langsung di cat.
  9. Sebagai gantinya, kain disegel kembali dan kemudian diwarnai ulang, dikompresi, diencerkan, dibilas, dan kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari.

Kain batik yang menggunakan cat sintetis, penjemurannya membutuhkan sinar matahari langsung. Sedangkan untuk kain batik tulis yang menggunakan pewarna alami dijemur tanpa terkena sinar matahari langsung.